Empat Dosa Orang Tua Terhadap Anak

Empat Dosa Orang Tua Terhadap Anak

Oleh: Yanto, S.Pd, M.Ed

Kebanyakan kita mendidik anak seperti orang tua kita dulu mendidik kita. Ada yang berhasil, tapi tidak sedikit pula yang gagal. Hanya saja orang tua banyak yang mengulang kesalahan yang dibuat orang tuanya dulu dalam mendidik anak. Setidaknya terdapat empat kesalahan atau dosa orang tua terhadap anak yang seringkali kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Memberi Label Buruk

Dosa yang pertama adalah memberikan label buruk pada anak. Secara tidak sadar orang tua sering melontarkan kata-kata yang merendahkan anaknya. Ungkapan “kamu malas, kamu bodoh, kamu tidak bisa diharapkan” adalah hal yang biasa kita temukan dalam keseharian. Orang tua secara tidak langsung memberi cap anaknya dengan cap yang sangat buruk yang mereka sendiri tidak berharap seperti itu. Namun kita adalah apa yang kita dan orang lain labelkan pada diri kita. Jika anak sering mendengar kata-kata yang merendahkan, ia akan hidup dengan  membawa rasa rendah diri. Jika ia sering diberi cap pemalas, cepat atau lambat dia akan percaya bahwa dirinya memang malas. Bahkan yang lebih parah dia seringkali membuktikan pada sekelilingnya bahwa dia memang anak yang malas. Meski suatu kali dia berperilaku rajin, dia sendiri akan menganggapnya sebuah hal yang kebetulan.

Bayangkan betapa malangnya anak yang tumbuh dengan pikiran negatif seperti ini. Ia akan membawa seumur hidupnya label buruk pada dirinya tersebut. Padahal yang dibutuhkan seorang anak adalah kata-kata yang menyemangati dan membesarkan hatinya. Bukan sebaliknya. Mestinya anak diperlihatkan sisi positif dirinya, bukan bagian negatifnya. Anak yang menurut kita malas, barangkali punya kelebihan fisik yang kuat atau tangkas berolahraga. Harusnya bagian positif itulah yang sering kita ingatkan setiap saat kepadanya. Jangan lupa, setiap anak itu cerdas dan cerdas jangan selalu diartikan harus selalu rangking satu di kelas.

 

Membandingkan

Ini dosa lain yang tidak kalah berbahayanya bagi perkembangan anak. Orangtua teramat sering membandingkan salah seorang anaknya dengan saudaranya yang lebih baik atau anak tetangga yang lebih berprestasi. Ada orang tua yang mengatakan “Lihat tuh kakakmu, selalu juara kelas. Kamu 10 besar pun tidak.” Atau “ Tuh contoh anak Om Anton, diterima di UI. Kamu? Kuliah di jurusan nggak jelas!.”

Kita bisa bayangkan anak yang selalu dibandingkan dengan saudaranya yang menurut kita lebih baik. Ia akan hidup dalam perasaan tidak diterima oleh orang tuanya sendiri. Jika anak merasa seperti itu, dimana lagi mereka bisa berharap akan diterima. Sebab, orang yang tidak bisa bahagia di tengah keluarganya sendiri, maka dia tidak akan pernah bisa bahagia dimanapun. Kalau pun dia mencoba mencari sumber kebahagiaan di tempat lain, maka tempat lain itu biasanya adalah tempat yang berbahaya baginya. Maka jangan heran jika anak mencari kebahagiaan dengan alkohol, narkoba, seks bebas dan lain-lain. Sebab ia tidak pernah memperolehnya di rumah sendiri.

 

Memaksakan Kehendak

Mungkin kita punya tetangga yang anaknya les tujuh hari seminggu. Senin-Kamis les matematika, Selasa-Jum’at les bahasa Inggris, Rabu-Sabtu les piano. Sorenya bikin PR. Malam belajar lagi. Begitulah setiap hari. Anak yang masih usia SD atau SMP memiliki kehidupan seperti orang dewasa yang berkarir. Ia seperti punya kehidupan sendiri. Layaknya miniatur orang dewasa. Bahkan waktu bermainnya telah dirampas oleh berbagai les yang sebenarnya belum tentu bermanfaat ketika ia besar nanti.

Lucunya, orangtua berkilah bahwa itu keinginan si anak. Padahal menurut ahli psikologi, anak yang belum berusia 9 tahun, sebenarnya belum memiliki keinginannya sendiri. Keinginan mereka adalah keinginan orang tua nya. Celakanya, orangtua seringkali menuangkan keinginannya pada anak tanpa ia sadari. Bahkan secara tidak sadar, keinginan orangtua yang tidak kesampaian dalam kehidupannya di masa lalu, di balaskan kepada anak. Ada orangtua yang gagal kuliah di kedokteran, maka berharap sangat anaknya ada yang jadi dokter. Maka si anakpun dipersiapkan dari kecil. Memasukkan ke berbagai les, memanjakan dengan fasilitas mewah serta menyekolahkan ke sekolah-sekolah elit. Jika si anak tidak mampu, maka orangtuapun  menggunakan berbagai cara agar cita-citanya tadi tercapai.

Apalagi sistem pendidikan kita memungkinkan untuk itu. Lihatlah berapa banyaknya pilihan les yang ada. Sekolahpun biayanya selangit. Di universitas juga lebih parah lagi. Konon untuk masuk kedokteran di Universitas Airlangga calon mahasiswa dikenakan biaya 800 juta. Biasanya inilah yang diinginkan sebagian orangtua. Dengan uang, mereka bisa membuat anak seperti keinginannya.

Menyuruh yang Tidak dilakukannya

Perintah orang tua kepada anak sering tidak bermakna karena tidak adanya keteladan. Ada bapak yang melarang anaknya yang masih SMP merokok. Padahal ia sendiri menghabiskan dua bungkus rokok setiap hari. Ada ibu yang menyuruh anaknya belajar dan rajin membaca, sementara si ibu sendiri nyaris tak pernah lepas dari sinetron kesayangannya. Atau ada orangtua yang ingin anaknya menjadi anak yang shaleh, rajin shalat dan selalu mendoakan ibu bapaknya. Si anakpun disekolahkan di sekolah Islam yang bagus dan mahal. Namun di rumah si anak tidak pernah melihat ayahnya shalat.  Paling sekali seminggu, Jum’atan.

Kalau seperti ini, tentu anak tak akan pernah seperti yang kita inginkan. Bagi mereka sebuah contoh nyata jauh lebih berpengaruh dari seribu kata-kata perintah tanpa keteladanan. Para pemimpin yang berhasil dalam sejarah adalah mereka yang satunya kata dan perbuatan. Lidahnya adalah hatinya, ucapannya adalah perbuatannya. Orang tua yang berhasil dalam sejarah juga adalah orang tua yang mengutamakan keteladan dalam mendidik anak.

Jadi, mari kita didik anak dengan hati serta keteladanan. Di kehidupan yang penuh dengan kebohongan dan ketidakjujuran, keluarga menjadi tempat utama anak-anak akan menjadi pelopor kebaikan. Baik bagi orang tuanya, bangsanya dan juga agamanya. Selamat memperigati Hari Anak Nasional.

 

Biografi singkat:

Nama: Yanto, S.Pd, M.Ed

Tempat / Tgl Lahir: Padang / 7 Juni 1973

Pekerjaan: Dosen Bahasa Inggris FKIP Universitas Jambi

Alamat: Lorong Teladan No 40 Rt 31 Kel. Payo Lebar Jambi 36135

HP: 081374862711

Email: yanto7382@yahoo.com

 

Advertisements

Lagi-lagi Karena Doa Mama

LAGI-LAGI KARENA DOA MAMA

Banyak hal dalam hidup ini yang terkadang terjadi di luar nalar manusia. Setidaknya itulah yang saya alami beberapa kali. Terakhir, ketika saya dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa S3 di sebuah universitas di Australia. Menurut logikanya, mestinya saya tidak mungkin lulus. Sebab, sampai ketika saat wawancara, saya tidak bisa menunjukkan kepada panitia seleksi surat penerimaan dari universitas yang saya tuju. Namun, di sinilah doa seorang ibu menjadi senjata paling ampuh. Tiga minggu setelah wawancara, saya berhasil memperoleh surat yang diminta. Lalu langsung saya kirimkan ke panitia. Dan 10 hari kemudian, ketika pengumuman, nama saya tercantum di antara ratusan peserta yang lulus.
Sebenarnya, cerita tadi tidaklah sesederhana itu. Tahun 2011 lalu, sebelum melamar beasiswa, saya menelpon mama di Padang untuk mengatakan niat saya untuk melanjutkan sekolah lagi ke luar negeri. Tentunya dengan beasiswa. Saya mencoba mengajukan lamaran via online maupun pos ke beberapa universitas di luar negeri. Setidaknya ada 15 universitas yang saya lamar. Beberapa diantaranya langsung menolak. Ada yang beralasan, kualifikasi S2 saya yang full coursework tanpa tesis membuat mereka enggan menerima saya. Ada juga yang beralasan karena mereka tidak punya profesor yang bisa menjadi pembimbing saya. Intinya, 14 menolak.
Nah, ada satu universitas yang memiliki program doktor namun dapat diambil oleh mereka yang S2nya full coursework. Saya pikir ini cocok buat saya. Merekapun kemudian meminta saya meminta melengkapi beberapa bahan yang masih kurang. Satu diantaranya adalah nilai IELTS terbaru. Nilai IELTS yang saya kirimkan adalah keluaran tahun 2005. Jadi sudah 6 tahun. Padahal berlakunya nilai IELTS atau TOEFL hanya 2 tahun. Dan untuk mendapatkan nilai IELTS dalam waktu dekat bukanlah perkara mudah. Saya harus ke Jakarta untuk mendaftar, lalu menunggu penentuan hari ujian dan menanti hasil ujian. Biaya yang dikeluarkan juga bakalan tidak sedikit. Untuk ujian saja, 2 juta lebih, belum tiket pesawat Jakarta – Jambi pergi pulang serta penginapan. Buat saya pegawai negeri golongan 3 tentu saja jumlah itu terasa sangat besar. Sementara batas waktu beasiswa sudah tinggal hitungan hari. Akhirnya dengan terus terang saya kirimi email ke universitas yang saya tuju dengan menjelaskan keadaan saya. Dengan meyakinkan mereka bahwa saya adalah pengajar bahasa Inggris dan S2 saya juga di negara yang berbahasa Inggris. Lalu saya langsung telepon mama, minta sekali lagi didoakan. Begitulah, setiap kali mentok, saya selalu mengadukannya ke mama. Tentu saja tidak berupa keluhan. Saya hanya minta didoakan saja. Soal detailnya, tidak saya jelaskan.
Di sinilah kembali doa ibu menurut saya berperan lagi. Beberapa hari setelah itu email saya dibalas. Pihak universitas mengatakan akan membahas masalah saya ini. Selang beberapa hari saya mendapatkan jawaban positif. Saya diterima dan mereka mengirimkan surat penerimaan tanpa syarat. Surat inilah yang saya kirimkan ke pihak panitia yang sebenarnya sudah terlambat 3 minggu.
Padahal, saat briefing sebelum wawancara, pihak panitia sudah langsung mengatakan bahwa yang hari ini tidak membawa surat penerimaan (Letter of Acceptance) dari universitas yang dituju, dipastikan tidak lulus. Saya langsung lemes. Jauh-jauh dari daerah ke Jakarta hanya untuk mengetahui bahwa saya sudah pasti tidak lulus. Namun begitu wawancara selesai, saya langsung telepon istri dan mama. Kepada keduanya saya tetap mengatakan bahwa wawancara berjalan lancar dan minta didoakan agar lulus.
Karena sering minta didoakan, mama pernah mengatakan bahwa saya tidak perlu kawatir karena beliau selalu mendoakan saya setiap hari. Tentu saja ini membuat saya lega. Rasanya tidak ada yang lebih berkah di dunia ini selain hidup selalu dalam doa seorang ibu. Saya sangat percaya bahwa banyak kejadian di dunia ini yang dapat diubah dengan doa seorang ibu jika kita percaya. Setidaknya itulah yang selalu terjadi dalam hidup saya. Saya yakin hati manusia manapun dapat digerakkan dengan bantuan doa ibu yang jika diterima oleh penguasa langit dan bumi, maka tidak ada yang tidak mungkin.
Singkat cerita, bulan Maret 2012 yang lalu, hasil seleksi wawancara diumumkan secara online. Dan Alhamdulillah saya dinyatakan lulus. Pagi itu juga mama langsung saya telepon untuk memberitahu berita yang menggemparkan dunia persilatan ini (maaf, sedikit bercanda!). Saya katakan menggemparkan, karena kami berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Mama adalah pensiunan guru SD dan seorang single parent. Dengan gaji guru SD-nya serta pensiunan almarhum ayah yang juga guru SD, keempat anaknya berhasil beliau antarkan menjadi sarjana. Beliau tidak pernah mengeluh dengan kesulitan hidup. Beberapa kali SK PNSnya beliau gadaikan di bank untuk memperoleh pinjaman demi kuliah keempat anaknya. Inilah yang membuat saya selalu bercita-cita untuk membuat beliau selalu bahagia. Saya sering minta didoakan dengan harapan bahwa beliau tahu betapa berharapnya saya dari doa beliau. Betapa berartinya doanya buat saya.
Terdengar di telepon suara mama agak bergetar ketika saya beritahu kalau saya lulus beasiswa ke luar negeri. Saya tahu pasti beliau sangat bahagia. Dan buat saya itu adalah segalanya. Membahagiakan orangtua satu-satunya.
O ya, saya baru dua kali ikut tes beasiswa. Dulu S2 di Flinders University, Australia dengan beasiswa ADS. Sekarang, S3 di Murdoch University, Perth dengan beasiswa DIKTI. Lucunya, saya baru nyoba langsung lulus. Bukan karena saya lebih pintar dari yang lain. Tapi saya percaya, karena doa mama. Dulu ketika mendapatkan beasiswa S2 di Flinders University juga sama. Semuanya begitu dilancarkan dan dibuka peluang lebar-lebar. Ketika itu niat saya memperoleh beasiswa adalah karena ingin memberangkatkan mama naik haji. Kalau dari penghasilan sendiri kayaknya sulit dan pasti lama. Nah, ternyata dikasih jalan tol yakni beasiswa. Saya dapat ilmu anak dan istri dapat pengalaman tinggal di luar negeri dan mama berangkat haji.

Di Adelaide dulu, saya tinggal persis di depan kampus Flinders Uni. Biayanya sewa rumah 60 dolar perkamar. Termurah se Adelaide bahkan mungkin se Australia. Dari hasil sisa uang beasiswa itulah saya bisa menabung buat mama berangkat haji.
Ketika itu mama cerita di telpon bahwa beliau baru saja ikut tabungan haji di BRI. Beliau baru setor Rp.500.000. Dalam hati saya pikir akan lama sekali bila cuma segitu menabungnya sebulan. Sebetulnya saya mau mengatakan bahwa nanti saya akan membantu biaya haji mama setelah saya sampai di Indonesia. Tapi karena niat mama sudah kuat rupanya, besok paginya mama saya telepon untuk mengatakan bahwa saya baru saja mentransfer uang separuh dari biaya haji beliau. Saya bilang akan saya bayar lagi sisanya bulan depan. Mama bahagia sekali dan seakan tak percaya.
Semoga cerita diatas menginspirasi. Salam.

The Three Characteristics of a Good Language Learners

The Three Most Important Characteristics

of Good Language Learners:

A Case Study of Five Indonesian Learners

 

Introduction

A large number of studies have been conducted to investigate the characteristics of good language learners. It is believed that good language learners have similar pattern in developing their ability, which differentiate them from bad language learners (Nunan, 1999). Rubin & Thompson (1982) have come to the 14 characteristics of good language learners. The characteristics used by learners are influenced by several factors such as motivation, language learning environment and learning style (Oxford, 2004). This paper will explain the three most important characteristics of good Indonesian learners in learning English as a foreign language. The data were taken from the interviews with five good Indonesian learners. This paper will also discuss factors that influence the use of the strategy, English learning in Indonesia, difficulties in language learning and the three most important characteristics of good learners in learning English. 

Background

Learning strategies are defined as particular methods used to get a certain goal (Brown, 2000). Oxford (1990) defines learning strategies as some particular ways used by learners to make their learning process become more effective and more efficient.

Good language learners can be described as successful users of language learning strategies.  As it mentioned earlier, there are 14 characteristics of the good language learner, which are summarized by Rubin & Thompson (1982). Good language learners:

  1. find their own way, taking charge of their learning.
  2. organize information about language.
  3. are creative, developing a “feel” for the language by experimenting with its grammar and words.
  4. make their own opportunities for practice in using the language inside and outside the classroom.
  5. learn to live with uncertainty by not getting flustered and by continuing to talk or listen without understanding every word.
  6. use mnemonics and other memory strategies to recall what has been learned.
  7. make errors work for them and not against them.
  8. use linguistic knowledge, including knowledge of their first language, In learning a second language.
  9. use contextual cues to help them in comprehension.
  10. learn to make intelligent guesses.
  11. learn chunks of language as wholes and formalized routines to help them perform “beyond their competence.”
  12. learn certain tricks that help to keep conversations going.
  13. learn certain production strategies to fill in gaps in their own competence.
  14. learn different styles of speech and writing and learn to vary their language according to the formality of the situation.

English learning in Indonesia

In Indonesia, English is taught to Junior High School students for three years and then to Senior High School students for three years as a compulsory subject. The main focus of teaching English is on grammar and reading skill. Therefore, other skills like speaking, writing and listening are mostly ignored (Sawir, 2005). The most common method that teachers use in teaching English is the grammar-translation method. Lamb (2004) describes Indonesian students as dependent students. The national curriculum focuses on teachers not the students as the center of the learning process. Textbooks are considered as the only resources that teachers use in the classroom. The result of the leaning process is assessed by national examination without considering the students’ needs. Consequently, students become passive learners.

Research by Exley (2005) shows that about 85 % of Indonesian students are categorized as “less than good” in English spoken and written proficiency. Another study by Setiyadi (2001) suggests that most students are never taught how to learn English by using good strategies.

Difficulties in English learning in Indonesia

The main problem in developing communicative skills in the classroom is the focus of teaching. In many schools in Indonesia, learning English is seen as learning some grammatical rules, doing some tasks without using the language (Sawir. 2005). Reading is the dominant skill taught by teachers. Consequently, the three other skills are ignored (Sugirin, 1999).

Class size is another main difficulty in learning. There are 40 to 50 students in a class. Lack of funds is the reason for the class size (Exley, 2005). Teachers’ ability in teaching English is also considered as the main factor of difficulty in achieving good learners.  Many teachers do not have good level in teaching English.

Literature review

Many studies have examined the language learning strategies used by good language learners. The results have similar patterns. A research by Setiyadi (2001) suggests that most good learners prefer to use metacognitive strategies in learning English. Metacognitive strategies are activities which provide a way for learners to arrange their own learning process (Oxford, 1990). The activities include centering the learning, arranging and planning and evaluating the learning.The use of metacognitive strategies has significant effect on their achievement in learning English. The similar result has also been founded by Mistar (2001). He suggests that metacognitive strategies and social strategies are two dominant factors for good learners to be independent learners. Metacognitive strategies independently make plans for the good learners’ activities as well as evaluate the program. On the other hand, social strategies independently enhance communicative interactions with other people.

A study by Bremner (1999) suggests that most good language learners in China prefer to use metacognitive and compensation strategies in their learning process. A similar study by Nisbet et al (2005) also finds that more students choose metacognitive strategies than other language learning strategies.

 

 

METHODS

 

The data from this paper were taken from the interviews of five Indonesian students who are studying in Australia. Three of the participants are female students while the two others are male. Four of them are studying at Flinders University while one of them is studying at Australian National University, Canberra. All of them are taking master programs. The letter and the number in brackets identify each individual participant.

They were considered as good language learners because they can get scholarship to study in Australia. To get the scholarship, they had been selected from among over 5000 students in Indonesia who were interested in the scholarship. The selection was focused on communicative skill. At the time of the interviews, they had been studying in Australia for five months.

The participants were asked to comment on some questions about various aspects of English language learning. For examples, how they prefer learn English, what media they used in learning English. They were also asked about their attitudes toward their mistakes in learning English. The questions were adapted from Richards & Lockart (2004).

Findings from the interviews

The three most important characteristics of good language learners

After analyzing the interviews, I found three patterns of good language learners from the participants. The patterns are similar to what other researches found as I mentioned in literature review session. All of the participants preferred to use metacognitive strategies in learning English. They centered, arranged, planned and evaluated their own learning. They became more independent in making any decision of their learning process. The participants were also influenced a lot by their motivation, learning environment, personal style and attitude toward learning.

 

1. They find their own way, taking charge of their learning

The first pattern of good language learners was they tried to find their own way, taking charge of their learning. All of the five participants took English courses when they were still studying in Senior High School based on their intention. This means that they had strong motivation to find their own way to learn English. They had to spend their time, their money and their attention on learning English outside the classroom. This also means that they realized learning English in the classroom was not enough for them to be good learners.

“I took an English course since I was still in elementary school and then I continued until I was studying in Junior High School and Senior High School. At the first time, it was my parents’ intention to encourage taking the English course. However, I realized that it was good for me to do so. I found the advantages of English courses right now.” (S1)

“I took an English course when I was in Senior High School. I realized that English was very important for my future so that I registered at one of the best English courses in Indonesia.” (S2)

“I started taking an English course when I was at the second year of Senior High School. I took the course for two years only until I graduated from school. I did that because I couldn’t understand what teachers taught at school. There were too many students in a class so that I had a little attention.” (S3)

“My parents suggested me to take an English course when I was in Junior High School. I just followed their suggestion but then I realized the importance of an English course for my English ability. It was very helpful.” (S4)

“I liked English courses because the size of a classroom was very small. The teachers were very friendly and helpful. The facilities were good. The teaching method was better than what I got at school. There were also various kinds of model of learning English.” (S5)

Most of the participants realized the importance of good teaching environment therefore they found their own way in learning English. The most likely choice was an English course. They took English courses because the courses were the only places where they got more attention from the teachers and had more opportunity to practice their English.

Motivation became an essential factor for their decision to learn English outside the classroom. Most of the participants took the courses based on their own intention. This showed their strong motivation in learning English. As mentioned earlier, motivation influenced learners in using language-learning strategies.

 

 

2. They are creative, developing a “feel” for the language

The second similar pattern of the participants as good learners of English was that they were creative, developing a “feel” for the language. All of the participants used various media radio, TV, movies, songs and magazines in learning English. They did not depend on the textbooks or any materials they got from school or courses.

“I love learning English from radio and TV. Listening and watching news from radio and TV were my favorite programs. I learnt a lot from the media. It helped me in practice my listening skill. I often listened to BBC London in the morning. That was good experience for me.” (S1)

“I like reading English magazines so that I can practice my reading ability. I bought old TIME magazines. I learned a lot from the magazines. They helped me increase my vocabularies.” (S2)

“I like practicing my English with native speakers. I usually talked to tourists who came to my hometown. However, not many tourists came to my hometown so that I couldn’t practice regularly.”(S3)

“My hobbies are listening to the music and watching movies. I think I can learn English through both of them. For me songs are more enjoyable in learning English as well as having fun. Movies also helped me understand the context of some language items. Movies are more helpful in learning listening and speaking especially English movies without text on the screen.” (S4)

“I like debates and discussions. Usually the teacher gave us an interesting topic to be discussed and then we gave our opinion about the topic. The role of the teacher was only as a guide. At the end of the discussion, he explained some language items and gave correctness. I think it was a good way to do that and I liked it very much.” (S5)

From the comments of the participants above, it can be seen that they had their own media preferences in learning English. They used specific activities to make the learning process easier, faster, more enjoyable, more self-directed and more transferable to new situation (Oxford, 1990). They used the media as facilities to practice using language outside the classroom.

The choice of media is influenced by learning style and personal preference (Oxford, 2004). Learning style can be defined as cognitive, affective and physiological characteristics of how learners perceive, interact with and respond to the learning environment (Brown, 2000).

 

3. They make errors work for them and not against them

The last common pattern of good Indonesian learners was that they made errors work for them and not against them. They were not afraid of making mistakes in learning English. They learned a lot from the mistakes. The following comments show that attitude.

“One of my teachers told me not to be afraid if you learned a language so that I keep practicing my English in the classroom even though I made some mistakes and my friends laughed at me. But in my English course nobody laughed at me if I made some mistakes in pronounce a particular word. They were very friendly. That was why I loved the environment in my English course’s class rather than at school.” (S1)

“I didn’t care if people laughed at my mistakes. For me, nobody is perfect. English is not my first language so why I have to be embarrassed if I made mistakes. I think I learned from mistakes. Moreover, my teachers in my English courses usually corrected my mistakes at the end of the lesson. Therefore, I didn’t make the same mistakes again next time.” (S2)

“I often made mistakes in grammar and pronunciation but for me, they were not big deals. As long as the person I talked to understood what I said, that’s ok.” (S3)

“I love practicing English in my English courses because the teachers would tell me and my friends about our errors and the they corrected the errors. I usually remembered most errors that I made and then tried not to make the same errors later. In the classroom, I couldn’t do that because everybody would laugh at you if you said something wrong.” (S4)

 “I usually made some notes about my weaknesses in grammar and pronunciation and then learned the mistakes at home. If I still didn’t understand about the mistakes I came to my teacher in my English course to find out the right answer.” (S5)

From the comments above, it can be seen that the good language learners were not afraid of making mistakes in practicing the language. They realized that the mistakes they made would improve their ability in learning the language if they could learn from the mistakes. Another common thing is that the bad environment, which discourages them to develop their ability, does not influence the good language learners.

Conclusion

In conclusion, the findings of this study help us understand the strategies used most by good Indonesian learners in learning English. Like what other researches found, this study has figured out the pattern of language strategies used by good Indonesian learners in learning English as a foreign language. This study also shows us the factors that influence the participants in using the strategies. In summary, the interviews have provided the following findings:

  • The participants find their own way, taking charge of their learning by taking English courses outside the school.
  • The participants are creative learners by using various media in learning English.
  • The participants make errors work for them and not against them by keeping practice English to improve their ability.
  • Motivation, environment and attitudes toward errors are very influential factors in using strategies of language learning.

References

Bremner, S. (1999). Language learning strategies and language proficiency:

             Investigating the relationship in Hong Kong. Canadian Modern Language

             Review, 55(4).

Brown, H.D. (2000). Principles of language learning and teaching (4th ed.). NY:

            Addison Wesley Longman, Inc.

Exley, B. E. (2005). Teachers’ professional knowledge bases for offshore

            education: Two case studies of western teachers working in 

            Indonesia.(PhD thesis). Brisbane: Queensland Univeristy of Technology.

Harmer, J. (2003). The practice of English language teaching. Harlow, England:

            Pearson Education Limited.

Lamb, M. (2004). It depends the students themselves: Independent language

            learning at an Indonesian state school. Language, Culture and

            Curriculum, 17(3), 229.

Mistar, J. (2001). Maximizing learning strategy to promote learner autonomy.

            TEFLIN, 12(1).

Nisbet, D. L., Tindall, E. V. & Arroyo, A. A. (2005). Language learning strategies

            and English proficiency of Chinese university students. Foreign Language

            Annual, 38(10), 100.

Nunan, D. (1999). Second language teaching and learning. Boston: Heinle

            Heinle Publishers.

Oxford, R. L. (1990). Language learning strategies: What every teacher should 

            know. Boston: Heinle & Heinle Publishers.

Oxford, R. L. (2004). Language learning strategies. In R. Carter and D. Nunan

           (Eds.), The Cambridge guide to teaching English to speakers of other

           languages (pp. 167-172). Cambridge: Cambridge University Press.

Richards, J. C. & Lockhart, C. (2004). Reflective teaching in second language

           classroom. Cambridge: Cambridge University Press.

Rubin, J. & Thompson, I. (1982). How to be a more successful language learner.

           Boston: Heinle & Heinle Publishers.

Sawir, E. (2005). Language difficulties of international students in Australia: The

           effects of prior learning experience. International Education Journal, 6(5),

           567-580.

Setiyadi, B. (2001). Language learning strategies: Classification & pedagogical

           implication. TEFLIN, 12(1).

Sugirin (1999). Studying the academic reading comprehension process:

           Responding to methodological concerns. Paper presented to HERDSA

           Annual International Conference. Melbourne, 12-15 July.

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jambi Lemas, Pelaku Usaha Gemas, Rakyat Cemas

Jambi Lemas, Pelaku Usaha Gemas, Rakyat Cemas

Oleh: Yanto, S.Pd, M.Ed

Dosen bahasa Inggris Universitas Jambi

JAMBI LEMAS merupakan singkatan dari Jalan Ancur, Macet, Bensin Ilang, Listrik Enggak Menyala, Air Susah. Itulah gambaran yang paling tepat mengenai keadaan sebagian besar penduduk kota Jambi beberapa hari belakangan. Di setiap pom bensin kita lihat antrian kendaraan yang menyebabkan macet. Mulai pagi hari hingga sore atau malam. Bensin tiba-tiba saja langka. Kalaupun ada, sangat sedikit. Di eceran harganya bisa Rp. 20.000 per liter. Kita seperti berada di sebuah negeri tanpa pemerintahan. Sebab tidak terlihat usaha dari pihak terkait untuk memperbaiki keadaan. Atau mungkin mereka memang tidak berdaya. Kalau ditanya, paling seribu satu alasan akan terdengar. Namun itu tidak akan mengubah apapun. Jadi sebaiknya tidak usah bertanya.

Padahal semua orang tahu bahwa BBM adalah komponen mutlak dalam perekonomian. Ekonomi bisa saja lumpuh jika BBM lenyap dalam jangka waktu yang lama. Padahal ini pernah terjadi beberapa waktu lalu. Namun sepertinya kita tidak pernah belajar dari kesalahan. Kita hobinya justru saling  melempar kesalahan.

Di sebagian daerah kota Jambi mulai Jumat, 8 Juli 2011 kemarin juga terjadi pemadaman listrik. Katanya ada kebakaran di salah satu gardu listrik. Tidak ada kebakaran saja listrik terkadang mati, apalagi ada kebakaran. Tidak tanggung-tanggung, akibatnya harus terjadi pemadaman selama 3 hari. Bisa dibayangkan berapa banyak kerugian yang mesti ditanggung. Tidak hanya oleh dunia usaha, tetapi juga masyarakat biasa. Aktivitas sepertinya lumpuh karena listrik merupakan sumber energi utama usaha jenis apapun. Di rumah tangga, masyarakat tidak bisa beraktivitas terutama pada malam hari. Padahal tidak semua orang mampu membeli jenset. Maka lengkaplah penderitaan kita. Bukannya mau mengeluh, tapi sekedar menyampaikan isi hati.

Lucunya, penderitaan belum selesai sampai di situ. Air tidak mau ketinggalan. Air ingin berpartisipasi dalam menambah penderitaan rakyat Jambi. Lebih dari 3 hari pula air berhenti total mengalir. Biasanya juga sering macet di beberapa tempat tertentu. Alasannya mungkin karena listrik padam. Jadi air tidak dapat dialirkan. Hebatnya lagi, air justru macet setelah beberapa waktu lalu tarifnya dinaikkan. Beginilah sekali lagi layanan publik di negeri ini. Kalau soal menaikkan tarif, kita nomor satu. Tapi jika berkaitan dengan peningkatan layanan, jangan berharap banyak.

Pelaku Usaha Gemas, Rakyat Cemas

Wajar para pelaku usaha gemas karena mereka tidak sanggup berbuat apa-apa. Sementara itu, mereka sangat bergantung pada keempat komponen ekonomi ini yaitu; jalan, BBM, listrik dan air. Gemas dalam artian mereka hanya bisa ngomel dan kesal tanpa pernah tahu kapan semuanya akan berjalan seperti biasa. Gemas juga bisa berarti mengapa tidak ada tindakan antisipasi dari pihak terkait.

Sedangkan rakyat, mereka jelas cemas karena semua menjadi mahal. Bensin bisa sampai Rp.20.000 per liter. Jenset tidak terbeli. Air juga sama. Sehingga aktivitas semuanya jadi terhambat. Mau berusaha, tidak bisa apa-apa. Saya tidak bisa bayangkan bahwa ratusan tukang ojek yang ada di kota ini harus berbuat apa. Mereka serba salah, kalau tetap ngojek nggak sesuai pendapatan dengan penghasilan. Kalau berhenti ngojek, anak dan istri mau makan apa. Mau berutang juga sulit karena utang yang kemarin juga belum dilunasi.

Lalu dimana Jambi Emas itu? Kita juga bingung untuk menjawabnya. Karena kita hingga hari ini tidak pernah merasa mendapatkan emas dalam bentuk apapun. Yang ada justru Jambi Lemas, Gemas dan Cemas. Terus, dimana Jambi Bernas itu? Karena yang ada justru Jambi yang Benar-benar Naas?

Pertanyaan berikutnya adalah kemana kita akan mengadu? Kemana kita akan menumpahkan kekesalan tentang layanan publik ini? Karena di media, yang kita dengar hanya alasan-alasan yang kita sendiri tidak terlalu paham maksudnya. Nampaknya kita diminta harus terus sabar dan lapang dada menerima “cobaan” ini. Dan beruntunglah kita. Karena masyarakat Jambi adalah masyarakat yang jauh dari tindakan anarkis. Ini patut kita syukuri. Barangkali karena orang Jambi adalah orang yang beradat. Jika di televisi kita lihat berbagai tindakan anarkis terjadi di daerah lain sebagai dampak buruknya layanan publik, maka Alhamdulillah hal tersebut tidak terjadi di Jambi. Dan semoga tidak akan pernah.

Jika dipikir-pikir, kalau pemerintahan sekarang mau dipilih lagi untuk periode berikutnya, caranya sangatlah sederhana. Perbaiki layanan publik. Titik. Masyarakat tidak meminta yang muluk-muluk karena mereka yakin pemerintah juga tidak akan bisa memenuhinya. Puluhan bentuk penghargaan dan prestasi juga tidak ada gunanya. Karena itu tidak membri apa-apa kepada masyarakat selain kebanggaan semu. Yang diminta sederhana saja. Asalkan perekonomian di daerah ini berjalan lancar, mereka sudah senang.  Fasilitas umum tersedia dengan baik, rakyat sudah bahagia.

Yakinlah mereka akan dengan senang hati kembali memilih pemerintahan yang sekarang. Sebab, memilih yang baru belum tentu lebih baik. Namun jika yang terjadi adalah ketidakberesan mengurus hajat hidup orang banyak, maka bisa dipastikan masyarakat akan berpikir ulang untuk memilih yang incumbent. Tidak percaya? Coba saja.

Nama: Yanto, S.Pd, M.Ed

Tempat/Tgl Lahir: Padang, 7 Juni 1973

Alamat: Villa Nusa Permata II B.01 depan Asrama Haji Kota Baru jambi

Pekerjaan: Dosen bahasa Inggris Universitas Jambi

Email: yanto7382@yahoo.com

Infotainment: Hiburan yang Tidak Menghibur

Infotainment: Hiburan Yang Tidak Menghibur

Oleh: Yanto, S.Pd, M.Ed

 

Nama infotainment mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian kita. Jenis tayangan yang mengupas mengenai berita-berita kaum selebriti ini bisa kita saksikan setiap hari hampir di semua stasiun televisi swasta. Bahkan ada stasiun TV swasta yang menayangkan program infotainment tiga kali sehari; pagi, siang dan sore.  Bila ditotal, jumlah jenis tayangan ini konon lebih lima puluh buah dengan beraneka ragam nama.

Jumlah yang cukup besar yang menunjukkan bahwa tayangan ini mendapat tempat atau perhatian bagi masyarakat kita.

 

 

Satu misi

Meskipun jumlah tayangan ini cukup banyak, namun semuanya memiliki satu misi yaitu menceritakan kehidupan para selebriti terutama kehidupan para artis. Sayangnya, pada sebagian besar tayangannya, infotainment lebih banyak mengekspos kehidupan negatif dari para selebriti. Mulai dari perceraian, keterlibatan narkoba, perselingkuhan dan perselisihan antar artis. Bahkan gosip gonta-ganti pacar saja, tidak luput dari pemberitaan. Hampir tidak ada yang dapat dijadikan teladan dari berita-berita itu. Anehnya, masyarakat kita tetap antusias menyaksikannya.

 

Infotainment ini bahkan tidak segan-segan melakukan pembunuhan karakter seseorang. Aib seseorang yang mestinya ditutup, oleh mereka justru dibuka selebar-lebarnya. Sepertinya ada kepuasan tersendiri bagi infotainment itu bila menjadi orang yang pertama kali membuka aib seseorang. Alasan mereka, masyarakat berhak tahu. Padahal yang mereka kejar sebetulnya adalah rating acara tersebut. Semakin sensasional sebuah infotainment, semakin besar pula kemungkinan tayangan tersebut diminati pemirsa. Ini artinya, iklan akan makin banyak dan pendapatan menjadi lebih besar.

 

 

 

Gaya Hidup Selebriti

Hal lain yang sering disoroti dalam program infotainment adalah gaya hidup para selebriti kita yang sebagian besar tidak mendidik. Di tengah krisis ekonomi yang mendera bangsa, para selebriti tidak malu pamer kekayaannya dengan merayakan ulang tahun anaknya yang masih balita secara berlebihan. Bahkan ada yang mengeluarkan biaya ratusan juta rupiah untuk pestanya saja. Tujuannya satu, agar mendapat ekspos media. Tidak ada rasa empati sedikitpun melihat nasib sebagian besar masyarakat yang dihimpit kesusahan. Sementara para pemirsa yang sebagian besar hidup pas-pasan hanya bisa menelan air liurnya dan geleng-geleng kepala.

 

Gaya hidup glamor yang diperagakan para selebriti itu tentu saja akan memiliki dampak yang tidak kecil bagi para remaja kita. Merekapun bermimpi menjadi seorang artis yang berpenghasilan puluhan juta per kontrak. Maka wajar saja kalau lomba-lomba yang berkaitan dengan dunia hiburan diserbu remaja-remaja kita. Semua memiliki tujuan yang sama; menjanjikan mimpi-mimpi terwujud menjadi nyata. Memang ada nilai kompetisi di sana. Namun, kompetisi yang menurut saya tidak bertujuan untuk meningkatkan kualitas pribadi seseorang. Yang ada di benak para remaja kita adalah bagaimana bisa menjadi bintang, apapun caranya.

 

Pelajaran lain yang diperoleh dari kisah para selebriti itu adalah gaya hidup yang kebarat-baratan yang sama sekali tidak patut dicontoh. Gonta-ganti pacar, pergaulan bebas, terlibat narkoba menjadi sisi gelap yang sering disorot dari para selebriti kita itu. Bahkan ada yang merasa tidak malu hidup serumah tanpa ikatan pernikahan. Mereka merasa tinggal di Hollywood atau di New York yang masyarakatnya tidak mau tahu tentang gaya hidup orang sekitarnya.

 

Menyikapi

Bila demikian halnya, kita perlu menyikapi agar pola hidup kaum berduit itu tidak serta merta kita tiru. Demikian juga cara berpikir mereka. Sudah saatnya kita selektif dalam memilih tayangan. Saya menyarankan agar kita punya jadwal sendiri dalam menonton acara televisi. Menyaksikan hanya seperlunya saja, misalnya berita, film dokumenter dan lain-lain. Bahkan bila mungkin, matikan TV Anda bila tidak ada acara yang bermanfaat. Sudah saatnya kita tidak lagi bergantung kepada kotak ajaib itu.

 

Kita bisa menggantikan waktu luang kita dengan kegiatan yang lebih jelas manfaatnya. Misalnya, membaca atau menulis. Dengan membaca atau menulis otak akan lebih terlatih untuk bekerja lebih baik dibandingkan hanya duduk di depan layar kaca berjam-jam setiap harinya. Daripada menonton kegiatan para artis yang tidak bermanfaat, lebih baik membaca biografi orang-orang besar di dunia ini. Kalau tidak percaya, coba saja. Baca misalnya kisah hidup Bung Karno atau Bung Hatta. Saya jamin Anda akan mendapatkan banyak sekali pelajaran dari dua pendiri republik ini. Atau kisah hidupnya B.J. Habibie yang penuh perjuangan ketika kuliah di Jerman sana.

 

Dengan mengetahui kisah hidup orang-orang besar itu, kita akan dibawa ke sebuah rangkaian peristiwa yang mengharukan dan mencerahkan. Kisah-kisah mereka juga mengandung banyak sekali hikmah dari berbagai rintangan yang mereka hadapi. Kita akan memperoleh pencerahan. Ini tentu jauh berbeda dengan apa yang kita dapat dari kisah hidup para artis.

 

 

Memaknai Hidup dengan Mengingat mati

Memaknai Hidup Dengan Mengingat Mati

Oleh: Yanto, S.Pd, M.Ed

 

Kita tidak pernah tahu kapan, dimana dan dengan cara apa kita akan meninggalkan alam fana ini. Namun yang kita tahu persis adalah bila masanya telah datang, maka kita akan berpisah dengan semua yang kita cintai di dunia ini. Kita juga tahu persis bahwa setiap orang akan menemui masa itu. Tidak masalah berapapun usianya. Baik muda maupun tua. Juga tidak peduli siapapun dia. Tukang parkir, pedagang, pegawai, anggota DPR bahkan presiden sekalipun. Semua akan menghadap Yang Kuasa. Pertanyaannya adalah sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadap Sang Khalik?

 

Di tengah kesibukan setiap manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, kita sering lupa bahwa suatu saat nanti kita akan dipanggil olehNya. Padahal tujuan seorang mukmin diciptakan di dunia ini adalah untuk mengabdi kepadaNya (QS. Az Zaariyaat: 56). Kebanyakan kita sibuk mengumpulkan harta dan kekayaan di dunia ini seakan-akan itulah yang akan kita bawa nanti menghadap Allah SWT.

 

Pentingnya Mengingat Mati

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW mengatakan bahwa ”Cukuplah kematian itu menjadi pelajaran bagimu.” Ini artinya dengan mengingat mati seorang muslim kembali diingatkan dengan tujuannya diturunkan ke dunia ini. Bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini. Dengan demikian, kita diharapkan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Jangan sampai kehidupan dunia ini membuat kita terlena.

 

Bila seorang muslim mati, kata Nabi yang mengantar mereka ke kubur hanya tiga yaitu; keluarganya, hartanya dan amalnya. Namun sayang, dua yang pertama akan kembali ke rumahnya. Tidak ikut bersamanya ke dalam kubur. Yang dua itu adalah keluarganya dan hartanya. Tidak seorangpun keluarganya yang bagaimanapun cinta kepadanya akan bersedia ikut dengannya ke dalam liang lahat untuk menemaninya. Tidak kekasih, saudara, orangtua, istri atau suami yang akan menemaninya di dalam kubur.

 

Demikian juga hartanya. Mobil mewahnya hanya parkir di pelataran kubur. Rumah, kebun, perusahaan akan diwariskan kepada yang masih hidup. Deposito di bank, berapapun jumlahnya tidak akan dapat membantu. Yang dibawa hanyalah dua lembar kain kafan. Lalu kemana pangkat dan jabatan serta gelarnya? Barulah ia tersadar kalau semua itu tidak membantunya setelah ia mati. Tapi sayang, semua sudah terlambat.

 

The best friend atau teman terbaik yang menemaninya ke alam kubur hanyalah amal perbuatannya. Amal yang dikerjakan ketika hidup di dunia. Kalaupun ada harta yang membantu kita di akhirat nanti adalah harta yang kita belanjakan di jalan Allah. Entah itu sedeqah, infaq ataupun zakat, itulah yang sebenarnya harta kita yang kekal.

 

Keseimbangan

”Bekerjalah kamu untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selama-lamanya. Beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok.” Demikian sebuah hadist yang mengingatkan kita agar senantiasa menjaga keseimbangan dalam hidup. Keseimbangan menjadi penting agar kita memahami hakikat kita sebagai makhluk diciptakan ke dunia ini. Bukankah dalam doa kita sering memohon kepada Allah agar senantiasa mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat?

 

Dengan senantiasa menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, kita akan selalu ingat bahwa ada kehidupan setelah mati. Kita juga akan paham bahwa hidup hanyalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Tujuan akhir adalah akhirat yang cepat atau lambat kita semua akan menuju ke sana.

 

Akhir yang baik atau sebaliknya

Ketika seorang manusia menemui ajalnya, ia akan berakhir dengan dua kemungkinan. Su-ul Khotimah (akhir yang buruk) ataukah Khusnul Khotimah (akhir yang baik). Mereka yang mati dalam keadaan Su-ul Khotimah akan ditimpa kesengsaraan yang dahsyat. Segala dosa yang pernah diperbuatnya di dunia ini akan diperlihatkan kepadanya menjelang kematiannya. Akibatnya ia akan menemui kesulitan dalam menghadapi sakratul maut. Ia boleh saja mati di atas kasur yang empuk dan dikelilingi para pembantunya. Namun ia akan tetap merasakan kesusahan ketika maut menjemputnya.

 

Sebaliknya beruntunglah mereka yang memperoleh Khusnul Khotimah, yakni menghadapi sakratul maut dengan tenang. Karena semua pahala yang pernah diperbuatnya di dunia ini akan membantunya dalam menghadapi maut. Tidak masalah dengan cara apa dia mati, namun ia akan merasakan ketenangan jiwa. Bahkan Allah sendiri yang akan mempersilahkannya masuk ke dalam sorgaNya. Hal ini digambarkan dalam surat Al-Fajr ayat 27-30: ”Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi. Masuklah ke dalam golongan hambaKu. Masuklah ke dalam sorgaKu.”  

 

Saya tahu banyak yang merasa kurang nyaman bicara masalah kematian. Namun tulisan ini sekedar mengingatkan kita saja agar tidak lupa bahwa suatu saat kita akan menemuinya. Maka mari kita persiapkan diri kita untuk menghadapinya. Ingat, hanya amal ibadah kita yang akan membantu kita menghadapi kematian, lain tidak. Tidak saudara, tidak pangkat, tidak jabatan, tidak gelar dan tidak apapun.