Memahami Usia Perkembangan Anak

Memahami Usia Perkembangan Anak

 

Oleh: Yanto, S.Pd, M.Ed

 

 

Umumnya kita kagum kalau ada anak yang masih berusia 5 tahun tapi sudah bisa membaca dan sekolah di SD. Para orang tuapun merasa sangat bangga bila dapat menyekolahkan anak-anaknya di usia yang sangat muda. Berbagai cara dilakukan. Ada yang tega memalsukan akte kelahiran anaknya demi tujuan ini. Kelas percepatan atau yang lebih dikenal dengan kelas akselerasi menjadi sasaran utama bagi sebagian orang tua. Bahkan ada yang memaksakan anak-anak mereka untuk bisa masuk kelas akselerasi meskipun dianggap belum layak oleh pihak sekolah. Cara-cara tidak simpatipun ditempuh demi memenuhi ambisi orang tua.

 

Perilaku dan sikap seperti ini jelas-jelas sangat keliru. Memaksakan anak untuk bisa masuk sekolah umum lebih cepat dari usia semestinya justru berdampak buruk bagi perkembangan sosial dan psikologi si anak. Bukannya berakibat baik bagi masa depannya, justru orang tua telah merampas hak si anak untuk bisa menikmati masa kanak-kanaknya lebih lama.

 

Anak seharusnya melalui setiap masa perkembangannya dengan wajar. Usia kanak-kanak yang mesti diisi dengan kegiatan  bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya akan terampas oleh berbagai kegiatan akademik yang belum perlu. Sungguh sangat sedih melihat anak TK atau SD kelas awal yang selalu dijejali Pekerjaan Rumah (PR) dari sekolahnya. Belum lagi keharusan ikut les ini dan les itu yang sebetulnya belum saatnya mereka peroleh. Ketakutan orang tua yang berlebihan bila anaknya tidak ikut les-les yang beraneka ragam itu justru menjadi bumerang bagi perkembangan psikologi si anak.

 

Para ahli psikologi anak seringkali mengingatkan orang tua untuk tidak terlalu membebani anak-anak mereka dengan kegiatan yang belum sesuai dengan usia perkembangan mereka. Rasa bangga yang berlebihan bila anak sudah punya keahlian khusus pada saat usia mereka masih belia mestinya dihilangkan. Semua itu adalah rasa bangga yang semu. Maksudnya, meskipun anak memiliki berbagai ”kepintaran” di usia yang masih sangat muda sama sekali tak ada keuntungannya bagi si anak.

 

Lucunya, orang tua seringkali berkelit dengan mengatakan bahwa segala kegiatan yang padat itu adalah keinginan si anak. Kalau mau jujur, sebetulnya anak yang masih berusia kurang dari 9 tahun belum memiliki keinginan yang dapat dipertanggungjawabkan (Gray, 2004). Artinya, keinginan mereka lebih kepada apa yang dikehendaki orang tua terhadap mereka. Jadi keliru sekali kalau orang tua berdalih bahwa anak-anak merekalah yang menginginkan semua kegiatan mereka yang padat itu.

 

Selain ketidaktahuan orang tua, bisa juga pemberian kegiatan yang berlebihan buat anak disebabkan faktor dendam pribadi sang orang tua. Misalnya, ada orang tua yang gagal masuk fakultas kedokteran pada waktu mudanya, lalu mengarahkan si anak untuk bisa kuliah di kedokteran suatu saat nanti. Sayangnya, jalan yang ditempuh justru dengan menjejali si anak dengan seabrek kegiatan yang sebetulnya tidak mereka perlukan setidaknya pada saat usia mereka masih belia.

 

John Gray (2004) dalam bukunya Children are from Heaven mengatakan bahwa menyandarkan harapan yang terlalu besar pada anak-anak kita akan berdampak buruk bagi perkembangan psikologinya. Berharap dari anak-anak yang kita kasihi tentu sah-sah saja. Yang tidak dianjurkan adalah bila harapan kita itu membuat si anak kehilangan masa kanak-kanaknya yang seringkali kurang disadari sebagian besar orang tua. Euis Sunarti (2004) dalam bukunya Mengasuh dengan Hati juga berpendapat sama. Menurut Euis, orang tua mestinya lebih fokus pada kebutuhan psikologi anak-anak mereka daripada kebutuhan akademis yang terlalu dini.

 

Kita prihatin melihat ada anak yang hampir tidak sempat istirahat atau bermain-main dengan teman-teman sebayanya. Pagi hari si anak sekolah. Pulang sekolah, istirahat sebentar lalu makan. Baru selesai makan si anak sudah harus ikut les matematika di sekolah. Malam harinya si anak dipaksa mengerjakan PR dari guru sekolah yang hampir setiap hari diberikan. Esok harinya, kegiatan kursus musik sudah menunggu. Lusa, kursus renang dan bahasa Inggris juga sudah menanti. Singkat kata, nyaris tak ada waktu luang buat si anak bersosialisasi dengan teman-teman di sebelah rumahnya. Si anak tak kalah sibuk dengan orang tuanya. Bila ini terjadi, tidakkah ini bentuk lain dari eksploitasi seorang anak?

 

Sudah banyak hasil penelitian dari para ahli psikologi yang mengatakan bahwa hasil belajar di sekolah sama sekali bukanlah hal yang paling menentukan keberhasilan si anak dalam hidupnya kelak. Justru penerimaan oleh orang tua terhadap anak adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan psikologis si anak. Ini tentu saja bukan berarti bahwa kita tidak perlu peduli dengan pelajaran mereka di sekolah. Yang benar adalah bahwa sudah saatnya orang tua menghilangkan ketakutan yang berlebihan terhadap hasil belajar anak-anak mereka di sekolah. Mencintai anak-anak kita tanpa syarat adalah hal mutlak yang mesti dilakukan oleh semua orang tua.

 

Kesimpulannya, marilah kita para orang tua mulai menyadari bahwa menggantungkan harapan terlalu besar terhadap anak adalah sebuah kekeliruan besar. Menerima anak apa adanya adalah sikap yang perlu dikembangkan. Anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah anugerah terbesar dari Yang Maha Kuasa. Rasanya tidak ada nikmat yang lebih bernilai selain mencintai dan mengasihi anak tanpa syarat. Bila ini dilakukan, hidup akan terasa lebih ringan dan bermakna.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s