Infotainment: Hiburan yang Tidak Menghibur

Infotainment: Hiburan Yang Tidak Menghibur

Oleh: Yanto, S.Pd, M.Ed

 

Nama infotainment mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian kita. Jenis tayangan yang mengupas mengenai berita-berita kaum selebriti ini bisa kita saksikan setiap hari hampir di semua stasiun televisi swasta. Bahkan ada stasiun TV swasta yang menayangkan program infotainment tiga kali sehari; pagi, siang dan sore.  Bila ditotal, jumlah jenis tayangan ini konon lebih lima puluh buah dengan beraneka ragam nama.

Jumlah yang cukup besar yang menunjukkan bahwa tayangan ini mendapat tempat atau perhatian bagi masyarakat kita.

 

 

Satu misi

Meskipun jumlah tayangan ini cukup banyak, namun semuanya memiliki satu misi yaitu menceritakan kehidupan para selebriti terutama kehidupan para artis. Sayangnya, pada sebagian besar tayangannya, infotainment lebih banyak mengekspos kehidupan negatif dari para selebriti. Mulai dari perceraian, keterlibatan narkoba, perselingkuhan dan perselisihan antar artis. Bahkan gosip gonta-ganti pacar saja, tidak luput dari pemberitaan. Hampir tidak ada yang dapat dijadikan teladan dari berita-berita itu. Anehnya, masyarakat kita tetap antusias menyaksikannya.

 

Infotainment ini bahkan tidak segan-segan melakukan pembunuhan karakter seseorang. Aib seseorang yang mestinya ditutup, oleh mereka justru dibuka selebar-lebarnya. Sepertinya ada kepuasan tersendiri bagi infotainment itu bila menjadi orang yang pertama kali membuka aib seseorang. Alasan mereka, masyarakat berhak tahu. Padahal yang mereka kejar sebetulnya adalah rating acara tersebut. Semakin sensasional sebuah infotainment, semakin besar pula kemungkinan tayangan tersebut diminati pemirsa. Ini artinya, iklan akan makin banyak dan pendapatan menjadi lebih besar.

 

 

 

Gaya Hidup Selebriti

Hal lain yang sering disoroti dalam program infotainment adalah gaya hidup para selebriti kita yang sebagian besar tidak mendidik. Di tengah krisis ekonomi yang mendera bangsa, para selebriti tidak malu pamer kekayaannya dengan merayakan ulang tahun anaknya yang masih balita secara berlebihan. Bahkan ada yang mengeluarkan biaya ratusan juta rupiah untuk pestanya saja. Tujuannya satu, agar mendapat ekspos media. Tidak ada rasa empati sedikitpun melihat nasib sebagian besar masyarakat yang dihimpit kesusahan. Sementara para pemirsa yang sebagian besar hidup pas-pasan hanya bisa menelan air liurnya dan geleng-geleng kepala.

 

Gaya hidup glamor yang diperagakan para selebriti itu tentu saja akan memiliki dampak yang tidak kecil bagi para remaja kita. Merekapun bermimpi menjadi seorang artis yang berpenghasilan puluhan juta per kontrak. Maka wajar saja kalau lomba-lomba yang berkaitan dengan dunia hiburan diserbu remaja-remaja kita. Semua memiliki tujuan yang sama; menjanjikan mimpi-mimpi terwujud menjadi nyata. Memang ada nilai kompetisi di sana. Namun, kompetisi yang menurut saya tidak bertujuan untuk meningkatkan kualitas pribadi seseorang. Yang ada di benak para remaja kita adalah bagaimana bisa menjadi bintang, apapun caranya.

 

Pelajaran lain yang diperoleh dari kisah para selebriti itu adalah gaya hidup yang kebarat-baratan yang sama sekali tidak patut dicontoh. Gonta-ganti pacar, pergaulan bebas, terlibat narkoba menjadi sisi gelap yang sering disorot dari para selebriti kita itu. Bahkan ada yang merasa tidak malu hidup serumah tanpa ikatan pernikahan. Mereka merasa tinggal di Hollywood atau di New York yang masyarakatnya tidak mau tahu tentang gaya hidup orang sekitarnya.

 

Menyikapi

Bila demikian halnya, kita perlu menyikapi agar pola hidup kaum berduit itu tidak serta merta kita tiru. Demikian juga cara berpikir mereka. Sudah saatnya kita selektif dalam memilih tayangan. Saya menyarankan agar kita punya jadwal sendiri dalam menonton acara televisi. Menyaksikan hanya seperlunya saja, misalnya berita, film dokumenter dan lain-lain. Bahkan bila mungkin, matikan TV Anda bila tidak ada acara yang bermanfaat. Sudah saatnya kita tidak lagi bergantung kepada kotak ajaib itu.

 

Kita bisa menggantikan waktu luang kita dengan kegiatan yang lebih jelas manfaatnya. Misalnya, membaca atau menulis. Dengan membaca atau menulis otak akan lebih terlatih untuk bekerja lebih baik dibandingkan hanya duduk di depan layar kaca berjam-jam setiap harinya. Daripada menonton kegiatan para artis yang tidak bermanfaat, lebih baik membaca biografi orang-orang besar di dunia ini. Kalau tidak percaya, coba saja. Baca misalnya kisah hidup Bung Karno atau Bung Hatta. Saya jamin Anda akan mendapatkan banyak sekali pelajaran dari dua pendiri republik ini. Atau kisah hidupnya B.J. Habibie yang penuh perjuangan ketika kuliah di Jerman sana.

 

Dengan mengetahui kisah hidup orang-orang besar itu, kita akan dibawa ke sebuah rangkaian peristiwa yang mengharukan dan mencerahkan. Kisah-kisah mereka juga mengandung banyak sekali hikmah dari berbagai rintangan yang mereka hadapi. Kita akan memperoleh pencerahan. Ini tentu jauh berbeda dengan apa yang kita dapat dari kisah hidup para artis.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s