Lagi-lagi Karena Doa Mama

LAGI-LAGI KARENA DOA MAMA

Banyak hal dalam hidup ini yang terkadang terjadi di luar nalar manusia. Setidaknya itulah yang saya alami beberapa kali. Terakhir, ketika saya dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa S3 di sebuah universitas di Australia. Menurut logikanya, mestinya saya tidak mungkin lulus. Sebab, sampai ketika saat wawancara, saya tidak bisa menunjukkan kepada panitia seleksi surat penerimaan dari universitas yang saya tuju. Namun, di sinilah doa seorang ibu menjadi senjata paling ampuh. Tiga minggu setelah wawancara, saya berhasil memperoleh surat yang diminta. Lalu langsung saya kirimkan ke panitia. Dan 10 hari kemudian, ketika pengumuman, nama saya tercantum di antara ratusan peserta yang lulus.
Sebenarnya, cerita tadi tidaklah sesederhana itu. Tahun 2011 lalu, sebelum melamar beasiswa, saya menelpon mama di Padang untuk mengatakan niat saya untuk melanjutkan sekolah lagi ke luar negeri. Tentunya dengan beasiswa. Saya mencoba mengajukan lamaran via online maupun pos ke beberapa universitas di luar negeri. Setidaknya ada 15 universitas yang saya lamar. Beberapa diantaranya langsung menolak. Ada yang beralasan, kualifikasi S2 saya yang full coursework tanpa tesis membuat mereka enggan menerima saya. Ada juga yang beralasan karena mereka tidak punya profesor yang bisa menjadi pembimbing saya. Intinya, 14 menolak.
Nah, ada satu universitas yang memiliki program doktor namun dapat diambil oleh mereka yang S2nya full coursework. Saya pikir ini cocok buat saya. Merekapun kemudian meminta saya meminta melengkapi beberapa bahan yang masih kurang. Satu diantaranya adalah nilai IELTS terbaru. Nilai IELTS yang saya kirimkan adalah keluaran tahun 2005. Jadi sudah 6 tahun. Padahal berlakunya nilai IELTS atau TOEFL hanya 2 tahun. Dan untuk mendapatkan nilai IELTS dalam waktu dekat bukanlah perkara mudah. Saya harus ke Jakarta untuk mendaftar, lalu menunggu penentuan hari ujian dan menanti hasil ujian. Biaya yang dikeluarkan juga bakalan tidak sedikit. Untuk ujian saja, 2 juta lebih, belum tiket pesawat Jakarta – Jambi pergi pulang serta penginapan. Buat saya pegawai negeri golongan 3 tentu saja jumlah itu terasa sangat besar. Sementara batas waktu beasiswa sudah tinggal hitungan hari. Akhirnya dengan terus terang saya kirimi email ke universitas yang saya tuju dengan menjelaskan keadaan saya. Dengan meyakinkan mereka bahwa saya adalah pengajar bahasa Inggris dan S2 saya juga di negara yang berbahasa Inggris. Lalu saya langsung telepon mama, minta sekali lagi didoakan. Begitulah, setiap kali mentok, saya selalu mengadukannya ke mama. Tentu saja tidak berupa keluhan. Saya hanya minta didoakan saja. Soal detailnya, tidak saya jelaskan.
Di sinilah kembali doa ibu menurut saya berperan lagi. Beberapa hari setelah itu email saya dibalas. Pihak universitas mengatakan akan membahas masalah saya ini. Selang beberapa hari saya mendapatkan jawaban positif. Saya diterima dan mereka mengirimkan surat penerimaan tanpa syarat. Surat inilah yang saya kirimkan ke pihak panitia yang sebenarnya sudah terlambat 3 minggu.
Padahal, saat briefing sebelum wawancara, pihak panitia sudah langsung mengatakan bahwa yang hari ini tidak membawa surat penerimaan (Letter of Acceptance) dari universitas yang dituju, dipastikan tidak lulus. Saya langsung lemes. Jauh-jauh dari daerah ke Jakarta hanya untuk mengetahui bahwa saya sudah pasti tidak lulus. Namun begitu wawancara selesai, saya langsung telepon istri dan mama. Kepada keduanya saya tetap mengatakan bahwa wawancara berjalan lancar dan minta didoakan agar lulus.
Karena sering minta didoakan, mama pernah mengatakan bahwa saya tidak perlu kawatir karena beliau selalu mendoakan saya setiap hari. Tentu saja ini membuat saya lega. Rasanya tidak ada yang lebih berkah di dunia ini selain hidup selalu dalam doa seorang ibu. Saya sangat percaya bahwa banyak kejadian di dunia ini yang dapat diubah dengan doa seorang ibu jika kita percaya. Setidaknya itulah yang selalu terjadi dalam hidup saya. Saya yakin hati manusia manapun dapat digerakkan dengan bantuan doa ibu yang jika diterima oleh penguasa langit dan bumi, maka tidak ada yang tidak mungkin.
Singkat cerita, bulan Maret 2012 yang lalu, hasil seleksi wawancara diumumkan secara online. Dan Alhamdulillah saya dinyatakan lulus. Pagi itu juga mama langsung saya telepon untuk memberitahu berita yang menggemparkan dunia persilatan ini (maaf, sedikit bercanda!). Saya katakan menggemparkan, karena kami berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Mama adalah pensiunan guru SD dan seorang single parent. Dengan gaji guru SD-nya serta pensiunan almarhum ayah yang juga guru SD, keempat anaknya berhasil beliau antarkan menjadi sarjana. Beliau tidak pernah mengeluh dengan kesulitan hidup. Beberapa kali SK PNSnya beliau gadaikan di bank untuk memperoleh pinjaman demi kuliah keempat anaknya. Inilah yang membuat saya selalu bercita-cita untuk membuat beliau selalu bahagia. Saya sering minta didoakan dengan harapan bahwa beliau tahu betapa berharapnya saya dari doa beliau. Betapa berartinya doanya buat saya.
Terdengar di telepon suara mama agak bergetar ketika saya beritahu kalau saya lulus beasiswa ke luar negeri. Saya tahu pasti beliau sangat bahagia. Dan buat saya itu adalah segalanya. Membahagiakan orangtua satu-satunya.
O ya, saya baru dua kali ikut tes beasiswa. Dulu S2 di Flinders University, Australia dengan beasiswa ADS. Sekarang, S3 di Murdoch University, Perth dengan beasiswa DIKTI. Lucunya, saya baru nyoba langsung lulus. Bukan karena saya lebih pintar dari yang lain. Tapi saya percaya, karena doa mama. Dulu ketika mendapatkan beasiswa S2 di Flinders University juga sama. Semuanya begitu dilancarkan dan dibuka peluang lebar-lebar. Ketika itu niat saya memperoleh beasiswa adalah karena ingin memberangkatkan mama naik haji. Kalau dari penghasilan sendiri kayaknya sulit dan pasti lama. Nah, ternyata dikasih jalan tol yakni beasiswa. Saya dapat ilmu anak dan istri dapat pengalaman tinggal di luar negeri dan mama berangkat haji.

Di Adelaide dulu, saya tinggal persis di depan kampus Flinders Uni. Biayanya sewa rumah 60 dolar perkamar. Termurah se Adelaide bahkan mungkin se Australia. Dari hasil sisa uang beasiswa itulah saya bisa menabung buat mama berangkat haji.
Ketika itu mama cerita di telpon bahwa beliau baru saja ikut tabungan haji di BRI. Beliau baru setor Rp.500.000. Dalam hati saya pikir akan lama sekali bila cuma segitu menabungnya sebulan. Sebetulnya saya mau mengatakan bahwa nanti saya akan membantu biaya haji mama setelah saya sampai di Indonesia. Tapi karena niat mama sudah kuat rupanya, besok paginya mama saya telepon untuk mengatakan bahwa saya baru saja mentransfer uang separuh dari biaya haji beliau. Saya bilang akan saya bayar lagi sisanya bulan depan. Mama bahagia sekali dan seakan tak percaya.
Semoga cerita diatas menginspirasi. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s