Memaknai Hidup dengan Mengingat mati

Memaknai Hidup Dengan Mengingat Mati

Oleh: Yanto, S.Pd, M.Ed

 

Kita tidak pernah tahu kapan, dimana dan dengan cara apa kita akan meninggalkan alam fana ini. Namun yang kita tahu persis adalah bila masanya telah datang, maka kita akan berpisah dengan semua yang kita cintai di dunia ini. Kita juga tahu persis bahwa setiap orang akan menemui masa itu. Tidak masalah berapapun usianya. Baik muda maupun tua. Juga tidak peduli siapapun dia. Tukang parkir, pedagang, pegawai, anggota DPR bahkan presiden sekalipun. Semua akan menghadap Yang Kuasa. Pertanyaannya adalah sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadap Sang Khalik?

 

Di tengah kesibukan setiap manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, kita sering lupa bahwa suatu saat nanti kita akan dipanggil olehNya. Padahal tujuan seorang mukmin diciptakan di dunia ini adalah untuk mengabdi kepadaNya (QS. Az Zaariyaat: 56). Kebanyakan kita sibuk mengumpulkan harta dan kekayaan di dunia ini seakan-akan itulah yang akan kita bawa nanti menghadap Allah SWT.

 

Pentingnya Mengingat Mati

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW mengatakan bahwa ”Cukuplah kematian itu menjadi pelajaran bagimu.” Ini artinya dengan mengingat mati seorang muslim kembali diingatkan dengan tujuannya diturunkan ke dunia ini. Bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini. Dengan demikian, kita diharapkan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Jangan sampai kehidupan dunia ini membuat kita terlena.

 

Bila seorang muslim mati, kata Nabi yang mengantar mereka ke kubur hanya tiga yaitu; keluarganya, hartanya dan amalnya. Namun sayang, dua yang pertama akan kembali ke rumahnya. Tidak ikut bersamanya ke dalam kubur. Yang dua itu adalah keluarganya dan hartanya. Tidak seorangpun keluarganya yang bagaimanapun cinta kepadanya akan bersedia ikut dengannya ke dalam liang lahat untuk menemaninya. Tidak kekasih, saudara, orangtua, istri atau suami yang akan menemaninya di dalam kubur.

 

Demikian juga hartanya. Mobil mewahnya hanya parkir di pelataran kubur. Rumah, kebun, perusahaan akan diwariskan kepada yang masih hidup. Deposito di bank, berapapun jumlahnya tidak akan dapat membantu. Yang dibawa hanyalah dua lembar kain kafan. Lalu kemana pangkat dan jabatan serta gelarnya? Barulah ia tersadar kalau semua itu tidak membantunya setelah ia mati. Tapi sayang, semua sudah terlambat.

 

The best friend atau teman terbaik yang menemaninya ke alam kubur hanyalah amal perbuatannya. Amal yang dikerjakan ketika hidup di dunia. Kalaupun ada harta yang membantu kita di akhirat nanti adalah harta yang kita belanjakan di jalan Allah. Entah itu sedeqah, infaq ataupun zakat, itulah yang sebenarnya harta kita yang kekal.

 

Keseimbangan

”Bekerjalah kamu untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selama-lamanya. Beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok.” Demikian sebuah hadist yang mengingatkan kita agar senantiasa menjaga keseimbangan dalam hidup. Keseimbangan menjadi penting agar kita memahami hakikat kita sebagai makhluk diciptakan ke dunia ini. Bukankah dalam doa kita sering memohon kepada Allah agar senantiasa mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat?

 

Dengan senantiasa menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, kita akan selalu ingat bahwa ada kehidupan setelah mati. Kita juga akan paham bahwa hidup hanyalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Tujuan akhir adalah akhirat yang cepat atau lambat kita semua akan menuju ke sana.

 

Akhir yang baik atau sebaliknya

Ketika seorang manusia menemui ajalnya, ia akan berakhir dengan dua kemungkinan. Su-ul Khotimah (akhir yang buruk) ataukah Khusnul Khotimah (akhir yang baik). Mereka yang mati dalam keadaan Su-ul Khotimah akan ditimpa kesengsaraan yang dahsyat. Segala dosa yang pernah diperbuatnya di dunia ini akan diperlihatkan kepadanya menjelang kematiannya. Akibatnya ia akan menemui kesulitan dalam menghadapi sakratul maut. Ia boleh saja mati di atas kasur yang empuk dan dikelilingi para pembantunya. Namun ia akan tetap merasakan kesusahan ketika maut menjemputnya.

 

Sebaliknya beruntunglah mereka yang memperoleh Khusnul Khotimah, yakni menghadapi sakratul maut dengan tenang. Karena semua pahala yang pernah diperbuatnya di dunia ini akan membantunya dalam menghadapi maut. Tidak masalah dengan cara apa dia mati, namun ia akan merasakan ketenangan jiwa. Bahkan Allah sendiri yang akan mempersilahkannya masuk ke dalam sorgaNya. Hal ini digambarkan dalam surat Al-Fajr ayat 27-30: ”Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi. Masuklah ke dalam golongan hambaKu. Masuklah ke dalam sorgaKu.”  

 

Saya tahu banyak yang merasa kurang nyaman bicara masalah kematian. Namun tulisan ini sekedar mengingatkan kita saja agar tidak lupa bahwa suatu saat kita akan menemuinya. Maka mari kita persiapkan diri kita untuk menghadapinya. Ingat, hanya amal ibadah kita yang akan membantu kita menghadapi kematian, lain tidak. Tidak saudara, tidak pangkat, tidak jabatan, tidak gelar dan tidak apapun.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s